REGIONALSULAWESI.ID | Maluku- Disela-sela kegiatan kunjungannya ke Kampung Reforma Agraria di Desa Waiketam Baru, Kecamatan Bula Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, Minggu lalu (21/02/2021), Wakil Menteri ATR/Wakil Kepala BPN, Surya Tjandra mengadakan dialog dengan masyarakat desa setempat, yang mayoritas petani dan peternak. Sebelumnya, Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) mengatakan, dengan potensi yang ada di Desa Waiketam Baru, masih terdapat beberapa kendala dalam mengembangkan usaha yang dimiliki masyarakat.

“Untuk menambah produksi padi, di sini terkendala pada permodalan, irigasi, peralatan dan pertanian, pun dalam penambahan sapi kami masih memiliki kendala diantaranya modal, lahan untuk kandang dan vaksin dan dari pengembangan usaha budidaya belut, masyarakat masih memiliki kendala berupa modal, tempat untuk pembudidayaannya, pakan/makanan belut serta hilang habitatnya,” ungkap Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) yang juga selaku Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten SBT, Herriyanto Aritonang.

Seusai menerima laporan dari Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten SBT, Wamen ATR/Waka BPN berbicara kepada 4 orang perwakilan petani yang merupakan warga transmigran dari 4 kota berbeda. “Saya menanam pisang dan kacang,” ujar Made Suwarsana seorang petani transmigran asal Bali.

Disahut oleh petani lain, Wantoro asal Temanggung, Jawa Tengah mengaku sehari-hari ia menanam sayuran, padahal dia memiliki lahan persawahan yang belum diolah lantaran kesulitan air. Sawahnya terlalu tinggi sehingga sulit dijangkau saluran irigasi, kecuali menggunakan pompa. Hal itu membuatnya belum bisa menanam padi di atas tanahnya.

Sebagai desa yang mayoritas penduduknya adalah petani, keluhan akan saluran irigasi juga dirasakan oleh 2 petani lainnya. Petani transmigran asal Ambon, La Wawan mengaku kesulitan mendapatkan air karena saluran irigasinya tidak ada. Sehingga akhirnya ia sekarang lebih memilih menjadi petani tanaman pertanian seperti Kakao, Kelapa dan Pisang ketimbang mengolah sawah.

Menanggapi aspirasi para petani, Wamen ATR/Waka BPN mengungkapkan tujuan menggelar dialog dengan petani ini supaya bisa menyerap informasi mengenai apa yang menjadi kebutuhan petani di lapangan juga sebagai bukti nyata bahwa negara hadir untuk kepentingan masyarakat di seluruh Indonesia. “Hal ini penting agar segera mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi. Jadi cerita-cerita kayak gini buat kami penting. Bapak jangan diam, justru kami perlu tahu apa kebutuhannya kayak tadi kincir, terus irigasi,” kata Surya Tjandra.

Untuk masalah irigasi, Wamen ATR/Waka BPN mengatakan hal itu memang bukan menjadi bagian dari tugas Kementerian ATR/BPN, melainkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya. Meskipun demikian, Surya Tjandra meyakinkan akan bantu berkoordinasi dengan pihak terkait supaya dapat membangun irigasi di Kabupaten SBT.

“Mungkin memang perlu dari pemerintah lebih sering mendengarkan aspirasi masyarakat. Dari ATR/BPN sendiri membantu dari segi pendaftaran tanah, pemetaan, bahkan kalau warga bisa ikut pemetaan partisipatif bisa lebih memudahkan. Tapi semua ini kita perlu kumpulkan informasi se Indonesia, nanti saya akan sampaikan kepada pemangku kepentingan terkait,” pungkasnya.

(sp/red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini