REGIONALSULAWESI.ID| Redaksi hariannkri.id mengutuk aksi kekerasan yang terjadi kepada wartawan hariannkri.id biro Papua Barat yang bernama Hiskia Samagita dan meminta agar terduga pelaku segera diproses menurut hukum yang berlaku.

Kekerasan terhadap wartawan adalah bentuk penyerangan kepada kebebasan pers, melanggar KUHP dan juga UU Pers No 40 Tahun 1999.
Berdasarkan penuturan Hiskia Samagita, kekerasan terjadi di Pelabuhan Sorong Papua Barat pada hari Jum’at 26 Maret 2021 lalu sekitar pukul 18.00 WIT. Pada saat itu Hiskia sedang turun dari kapal yang membawanya dari Waisai Kabupaten Raja Ampat ke kota Sorong.
Hiskia dipukul oleh seorang pemuda yang berinisial AN. Ia dipukul dua kali di bibir kiri dan pelipis sebelah kiri hingga memar. Ia juga ditendang sampai terjatuh dan kaki kirinya mengalami cidera.

Sejak kejadian hingga hari Minggu (28/3/2021) pagi, ia masih belum dapat berjalan dengan normal. Berdasarkan penuturan Hiskia, ia mengenali sosok AN. Terduga pelaku kekerasan terhadap wartawan ini adalah seorang pemuda asal Kampung Biga Distrik Misool Barat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat.
Hiskia mengenali sosok AN sebagai sepupu YD yang pernah diberitakan di hariannkri.id sebanyak dua kali.

Pada tanggal 8 Januari 2021 dengan judul “Oknum ASN Raja Ampat Diduga Ancam Ketua Tim AFU-ORI di Kampung Biga”. Adapun berita kedua pada tanggal 11 Januari 2021 dengan judul “Dugaan Pengancaman di Kampung Biga Raja Ampat Berdamai Atas Nama Tuhan”.

Hiskia meyakini kekerasan yang dilakukan AN kepadanya berkaitan dengan pekerjaannya sebagai wartawan. Karena pada saat melakukan aksi kekerasan, AN sempat mengatakan, “Keluarga, Ini Masalah Keluarga”. Hal ini menguatkan kenyataan bahwa AN adalah sepupu YD.

Pernyataan Sikap Redaksi HarianNKRI Atas Kekerasan Terhadap Wartawan hariannkri.id

  1. Redaksi mengapresiasi respon jajaran Polres Sorong Kota yang segera menerima laporan dari wartawan dan segera merekomendasikan dilakukan visum. Selain itu, Redaksi juga meminta agar pelaku diproses secara hukum yang berlaku berdasarkan KUHP serta Undang-Undang Pers No 40 Tahun 1999.
  2. Kekerasan terhadap wartawan adalah sebuah bentuk penyerangan kepada kebebasan pers. Segera memproses dugaan kekerasan ini akan memberikan rasa nyaman dan terlindunginya wartawan damenjalankan fungsi jurnalistiknya. Hal ini penting, demi tetap tegaknya fungsi pers yang diantaranya sebagai kontrol sosial.
  3. Redaksi akan selalu mengikuti perkembangan dugaan kekerasan terhadap wartawan Hiskia Samagita. Kami juga akan selalu berkoordinasi dengan aparat kepolisian, dari tingkat Polres Sorong Kota, Polda Papua Barat dan Polri.

(sp)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini